Mei 11, 2010

Supersemar Yang Supersamar

supersamar

supersemar yg supersamar

Sepanjang Indonesia merdeka dapat dikatakan belum pernah sekalipun suksesi kepemimpinan nasional berlangsung dengan mulus. Empat tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Abdurrahman Wahid, semuanya terpaksa harus menyerahkan kekuasaannya dengan cara yang tidak menyenangkan.

Dalam kacamata sejarah, berulangnya suksesi kepemimpinan nasional yang tidak mulus hingga tiga kali berturut-turut bisa jadi menggambarkan bebagai kemungkinan. Bisa memperlihatkan kenyataan bahwa bangsa ini memang tidak pernah mau belajar dari sejarah atau tidak pernah berupaya menjadikan sejarah sebagai guru kehidupan. Sejarah sepertinya hanya dilihat sebagai sekedar rekaman masa lalu yang di dalamnya sama sekali tidak memiliki nilai-nilai “pelajaran”. Bisa jadi pula, gambaran sejarah tentang berbagai peristiwa di seputar suksesi kepemimpinan nasional belum terungkap secara jelas sehingga terasa sulit bagi bangsa ini untuk dapat menarik pelajaran secara optimal. (Reiza D. Dienaputra) Baca lebih lanjut

Mei 11, 2010

Sumpah Palapa tidak Terlaksana

oleh: Adam

PERISTIWA Bubat menyisakan kenangan memilukan dan dianggap sebagai mimpi buruk orang Sunda. Tentang hal ini agaknya kita semua sepakat bahwa sekitar tujuh abad yang lampau, telah terjadi kisah tragis. Prabu Linggabuana dan putrinya Citraresmi beserta para pengiringnya gugur di suatu tempat bernama Bubat, sebagai konsekuensi dari upaya mempertahankan martabat dan harga diri. Sang Prabu yang jauh-jauh berangkat dari Kawali tidak menerima perlakuan Majapahit, yang memosisikan dirinya sebagai raja bawahan, sehingga keberangkatan Putri Citraresmi sebagai calon pengantin dianggap upeti belaka.

Meski tragedi Bubat dapat kita anggap sebagai peristiwa besar, tetapi sayang sekali sumber sejarah yang kita temukan tidak banyak. Naskah ”Sanghiyang Siksa Kandang Karesyan” (ditulis pada 1518 M), hanya menyajikan informasi beberapa baris tentang peristiwa memilukan tersebut. Keterangan yang boleh dibilang lengkap, meski masih perlu dikaji ulang kesahihannya, dapat disimak pada ”Kidung Sunda”, ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Selebihnya, dan itulah yang berkembang pada masyarakat adalah cerita lisan secara turun-temurun.

Tulisan Agus Sunyoto, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Malang (”PR”, 30/3) telah menambah informasi baru bahwa peristiwa Bubat hidup di lingkungan masyarakat Jawa, bahkan variannya jauh lebih berkembang ketimbang yang terdapat di masyarakat Sunda. Agus menjelaskan, para raja Jawa yang berkuasa pasca-Prabu Hayam Wuruk ada yang secara geneologis masih keturunan Sunda. Tidak semua pengiring Prabu Linggabuana gugur di Bubat, melainkan ada yang masih hidup, lalu melahirkan keturunan hasil kawin silang dengan penguasa Jawa.

Sah-sah saja kalau kemudian berkembang cerita semacam itu, yang di satu pihak dapat diartikan sebagai upaya “pencucian dosa” bahwa tidak semua orang Sunda yang berada di Bubat terbunuh, bahkan kemudian diposisikan secara cukup terhormat. ”Kidung Sunda” mengabarkan, Prabu Hayam Wuruk amat menyesali peristiwa tragis di Bubat sampai terjadi. Baca lebih lanjut

Mei 11, 2010

aRtiKeL uNiK sEjaRaH rEpUbLiK iNdoNesiA

|||||Kumpulan Artikel UNIK Tentang Sejarah Republik Indonesia|||||

Di Bawah ini ada artikel yang menarik yang sya ambil dari sebuah link, smoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang sejarah detik2 proklamasi yang sebagian orang tidak tahu bagaimana keadaan saat itu

Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari
kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00,
ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan
Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu
badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para
sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
“Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno
terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung
Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia dari serambi rumah.
“Demikianlah Saudara-saudara! Kita
sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir
patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil
mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat
itu, Bungk Karno kembali ke kamar tidurnya. Masih meriang. Tapi sebuah
revolusi telah dimulai…

**********************
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih
dari tiga ratus tahun!

***********************
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik
Indonesia memang belum ada saat itu.
“Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

*********************** Baca lebih lanjut

Maret 3, 2010

Dekolonisasi Historiografi Rakyat tanpa Sejarah, Sejarah tanpa Rakyat

PAULO Freire pernah menulis, adaptasi adalah tindakan yang paling maksimal bagi mereka yang “kalah”. Beradaptasi, meski dalam banyak kasus harus ditempuh dengan cara keras, hakikatnya hanyalah suatu bentuk yang paling lunak untuk mengeliminasi diri, menghilangkan keberdirian, dan menumpas kemandirian. Mereka yang memilih untuk menempuh cara beradaptasi adalah mereka yang sadar maupun tidak telah menyerahkan diri dan kemandiriannya pada keadaan yang belum tentu sesuai dengan keinginan kemanusiaannya.

Freire bisa jadi benar, hanya barangkali bagi sebagian besar orang Indonesia, pandangan tersebut justru cenderung “menyakitkan”. Betapa tidak, hingga saat ini, kita masih berada pada fase “beradaptasi”. Fase ini kita tempuh dengan sangat susah payah, bahkan hingga luka parah. Dalam analogi Freire, masyarakat Indonesia kira-kira berada pada fase antara “masyarakat tertutup” (closed society) menuju “masyarakat terpecah”, namun belum menjadi “masyarakat terbuka”.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.